BEBAS BERKARYA | Janganlah pikiran kita terbelenggu dengan penilaian orang lain. Berpikirlah dengan merdeka, bertindaklah dengan tenang, dan bersikaplah menjadi dirimu sendiri.

Proses yang benar dan konsisten akan menentukan kualitas hasil yang didapat - PB 2010

Siswa SMA Ubah Urine Manusia Jadi Pestisida

ENDONESIA | Wednesday, April 29, 2009 | 3 comments

Tak selamanya siswa SMA itu identik dengan tawuran ataupun dunia kenakalan remaja. Di Palembang, siswa SMAN 6 ternyata telah berhasil mengubah urine (air seni) menjadi pestisida. Kalau bisa dimanfaatkan, penemuan ini tentu saja merupakan langkah awal yang sangat penting bagi dunia pertanian. Namun, pihak sekolah kini masih bingung mengenai pengamanan temuan mereka itu dari aksi pembajakan.

Berawal dari sering bermasalahnya water closed (WC) di sekolah yang beralamat di Jalan Sersan Sani Palembang, enam siswa XI dan XII punya pemikiran bagaimana persoalan bau pesing itu bisa dituntaskan, bahkan bila perlu dapat memberikan manfaat.

"Maksudnya dari limbah yang awalnya bermasalah, anak-anak mencoba mencari solusi yang tidak sekadar menuntaskan persoalan, tetapi juga memberikan manfaat lebih," ujar Elvi Martalinda, seorang guru Bahasa Indonesia yang menjadi pembimbing para murid itu.

Keenam siswa yang tergabung dalam tim peneliti itu adalah Adisaputra (siswa kelas XI IPA 3), Eko Wahyudi (kelas XI IPA 2), Taufiq Hidayah (kelas XI IPA 4), Desi Oktarina (kelas XII IPA 10), Mira Zulyati Ahfa (XI IPA 20), dan Titan Pratama (murid kelas XII IPA2).

Pada awalnya, mereka menghadapi air seni yang berwarna seperti air teh itu merupakan tantangan sendiri. Selain urine yang berbau pesing, tim peneliti juga tak bisa melepaskan bayangan bagaimana ketika orang-orang membuang air seninya. Tetapi berkat ketekunan dan keyakinan bahwa yang dilakukan itu akan bermanfaat bagi banyak orang, terutama petani, pekerjaan mereka di laboratorium itu pun berlanjut.

Mudah dan Murah

Proses pengolahan air seni sebenarnya tidak rumit. Bahan-bahan yang dibutuhkan pun tidak sukar dicari. Menurut Elvi Martalinda, bahan utama adalah air seni. Dalam percobaan yang dilakukan, untuk 100 liter air seni, dibutuhkan 1 kg rempah-rempah. Nantinya akan menghasilkan 100 liter pestisida.


Kalau ditotal, biaya yang diperlukan hanya sekitar Rp 5.000 untuk membeli rempah-rempah. Sementara itu, air seninya masih gratis. Ini bisa dibandingkan dengan pestisida pabrikan yang dijual di pasaran seharga Rp 10.000/liter.

Rempah-rempah yang dibutuhkan adalah jengkol, kunyit, petai, dan brotowali masing-masing sebanyak 250 gram. Bahan lainnya, bawang merah dan cabai rawit, masing-masing 750 gram.

Selintas, saat anak-anak mencari bahan-bahan itu di pasar, dikira mereka akan praktik membuat masakan khas daerah., seperti pindang atau rendang. Pedagang sempat bertanya ketika siswa yang masih mengenakan seragam sekolah membeli bahan-bahan tersebut.

"Untuk praktik masak apa, Nak? Memang aneh, sekarang, masak anak laki-laki disuruh masak," ujar pedagang itu seperti ditirukan Elvi, sang guru pembimbing.
Alat-alat yang diperlukan juga gampang dicari, yakni wadah penampung urine yang bisa berupa bak atau drum, penutup wadah penampung, pisau, penghalus rempah-rempah, timbangan, kompor, panci, sarung tangan, masker, dan kaca pembesar.

Selain bahan dan alat-alatnya mudah dicari, pengolahan urine menjadi pestisida ini juga sangat mudah. Yang pertama dilakukan adalah menyiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Setelah itu, semua rempah-rempah (kunyit, pete, brotowali dan jengkol) direndam selama 24 jam, kemudian direbus.

Langkah berikutnya, urine dimasukkan ke dalam wadah penampung dan dicampur dengan rempah-rempah yang telah direbus. Proses ini dilanjutkan dengan tahap fermentasi selama 2-3 minggu.

Setelah fermentasi selesai, bawang merah dan cabai rawit dimasukkan ke dalam wadah penampung. Wadah itu kemudian ditutup dan dibiarkan selama 3-4 hari. Urine tadi dipastikan siap digunakan sebagai pestisida, tak kalah dengan pestisida buatan pabrik. Untuk penggunaannya, setiap 1 liter pestisida organik ini dicampur dengan 10 liter air.

Pemilihan Bahan

Pemilihan bahan, menurut Elvi, didasarkan kandungan yang terdapat dalam bahan-bahan itu. Jengkol (Pithecellobiium jiringa) dan petai (Parkia speciosa), misalnya, dipilih karena mempunyai kandungan asam amino dan sulfur yang berfungsi membunuh dan menghambat pertumbuhan hama tanaman.

Kunyit (Curcuma longa) mengandung kurkinoid yang terdiri atas polifenol, kurkumin, desmetoksikumin, bisdesmetoksikurkum in, minyak asiri/volatil oil, lemak, larbohidrat, protein, pati, vitamin C, garam-garam mineral (zat besi, posfor, dan kalsium). Polifenol pada kunyit merupakan bahan antimikroba ataupun hama tanaman.

Brotowali (Tinospora crispa) mempunyai kandungan kimia, yakni pikroretin, alkaloid, damar lunak, pati, dan glikosida. Zat pahit pikroretin berguna untuk membunuh hama tanaman. Bawang merah (Alium ascalonicum) mengandung minyak atsiri, sikloaliin, metilanilin, dihidroaliin, flavonglikosida, kuersetin, saponin, peptida, fitohormon, vitamin dan zat pati.

Minyak atsiri mempunyai susunan serat yang mempengaruhi sistem saraf hama, juga memberikan efek panas, serta rasa dan aroma yang tajam. Cabbai rawit, kandungan kimianya kapsaisin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak, dan vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas dan panas pada cabai, serta kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.

Dari hasil uji coba, memang terbukti pestisida olahan dari air seni ini memiliki keuntungan dibanding yang anorganik. "Paling tidak ada lima keuntungan, yang pertama lebih aman dan tidak berbahaya bagi manusia karena tidak mengandung racun. Pemakaian dalam dosis tinggi tidak merusak struktur tanah dan mencemari lingkungan. Dan, tak kalah dengan pestisida pabrik karena memiliki perlindungan pada tanaman yang sama kuatnya terhadap serangan hama tanaman," kata Elvi.

Selain itu, dua keuntungan lainnya ialah dapat menyuburkan tanah karena nantinya akan diuraikan mikroorganisme menjadi pupuk cair yang berguna bagi kesuburan tanah. Dan terakhir, urine manusia lebih baik dibandingkan dengan urine sapi. Hal ini karena manusia umumnya banyak mengkonsumsi bahan-bahan makanan yang mengandung bahan kimia.

Paling tidak, dengan hasil penelitian awal ini dapat diketahui bahwa urine manusia itu bukanlah limbah yang harus menjadi biang masalah. Bukan tidak mungkin, nanti urine manusia akan menjadi barang berharga. Tidak lagi kita membayar kalau buang air kecil di toilet umum, tapi justru pengelola toilet umumlah yang mestinya membayar atas urine yang kita "kucurkan" itu.

Ditulis oleh: KuCing MiaW pada Januari 22, 2008
Sumber: http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0801/ 19/sh04.html

Category: , ,

About GalleryBloggerTemplates.com:
GalleryBloggerTemplates.com is Free Blogger Templates Gallery. We provide Blogger templates for free. You can find about tutorials, blogger hacks, SEO optimization, tips and tricks here!

3 comments:

  1. Dear all,
    Dalam tayangan yang dirilis dari link koran Sinar Harapan ini:
    http://www.sinarharapan.co.id/berita/0801/19/sh04.html Tentang:
    *Siswa SMA Ubah Urin Manusia Jadi Pestisida*
    Berikut ini komentar saya:
    Di samping acungan jempol kepada para siswa SMAN 6 ini atas
    inisiatif-experimen tasi mereka tapi perlu diketahui dan diberithukan kepada
    mereka bahwa penggunaan limbah air kencing (dan tinja manusia) harus
    dilarang karena manusia adalah vektor yang efektif untuk penyakit-penyakit
    yang bisa menular kepada manusia lain. Jadi patut dicatat di sini bukan
    sekadar kadar ureanya yang kaya nitrogen tapi lebih bahaya PENULARAN
    PENYAKIT dari manusia ke manusianya. Karena manusia adalah vektor yang
    efektif untuk manusia lain. Beberapa penyakit yang mudah menular via kencing
    atau urine manusia contohnya: penyakit Typoid (Typus), Penyakit-2 kelamin
    atau Venereal Diseases (VD), penyakit-penyakit disebabkan virus, semua jenis
    virus yang kita kenal termasuk virus flu burung, flu babi, SARS de el el es
    be. Panjang daftarnya...
    Yang mau saya katakan adalah manfaat yang dihasilkan dari penggunakan air
    kencing manusia TIDAK SEBANDING dengan bahaya penyakit yang bisa
    ditularkannya. BAHAYA-nya TERLALU BESAR. Ini penting agar dipahami benar
    oleh anak-anak SMAN 6 ini sehingga tak kebablasan menjadi salah kaprah.
    Anak SMA yang Kreatif ini harus diarahkan untuk menggunakan urine atau air
    kencing sapi, kambing, kerbau, kelinci dan lain-lain sebagainya, dan jangan
    kencing babi karena sebagai vektor, babi punya banyak kemiripan dengan
    manusia sehingga penularan segala penyakit kepada manusia juga menjadi
    sangat mudah lewat babi. Untuk pengambilan urine dari binatang syaratnya
    adalah binatangnya harus sehat. Sapi tak boleh sapi diambil urinenya kalau
    menderita Antrax, madcow, sakit mulut dan kuku dllsb.
    para siswa SMAN 6 ini harus diberi-tahu dan penggunaan Urine manusia harus
    segera dihentikan. Guru pembimbing mereka seharusnya paham mengenai bahaya
    penggunaan Urine dan Tinja manusia, kalau mereka bisa diajarkan untuk untuk
    paham mengenai kandungan-kendungan aktif kunyit: kurkinoid yang terdiri atas
    polifenol, kurkumin, desmetoksikumin, bisdesmetoksikurkum in, minyak
    asiri/volatil oil, lemak, larbohidrat, protein, pati, vitamin C, garam-garam
    mineral (zat besi, posfor, dan kalsium).
    KOK TIDAK BISA MENJELASKAN BAHAYA PENULARAN PENYAKIT BERBASIS VEKTOR
    MANUSIA?
    Bagaimana bisa: Inovatif disatu sisi, tapi naif di sisi lain? Di mana
    peranan Guru pembimbing eksperimen ini? Jelas ini berbahaya?
    Semoga menjadi perhatian kita semua, jangan mentang-mentang organik lalu
    semua unsur yang patogenik (penyebab penyakit) juga dimasukkan tanpa ada
    seleksi. Gunakan nalar agar aman lingkungan dan sehat untuk kita semua.
    Semoga mencerahkan.
    Salam,
    Elias
    --
    *Dr. Elias Tana Moning, BA Phil, M. Agr., Ed. D.
    Outreach International Bioenergy*
    Location: Jakarta, Indonesia

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Mohon kiranya dapat berpartisipasi memberikan komentar pada postingan yang anda baca. Terimakasih

Blog Friend's